Disampaikan pada Seminar “The Amazing of Lotus Birth

Medan, 2 November 2013

 

A.    Pendahuluan

Infeksi pada bayi baru lahir merupakan salah satu penyebab kematian bayi terutama di negara sedang berkembang. Kematian akibat infeksi tali pusat yang menyebabkan tetanus neonatorum juga masih ditemukan di berbagai negara.1 World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa sekitar 500.000 bayi baru lahir meninggal setiap tahunnya karena infeksi bakteri.2 Salah satu penyebabnya adalah praktik pemotongan tali pusat yang tidak steril.

Waktu pemotongan tali pusat biasanya tergantung pada penerapan manajemen aktif kala III (MAK III) di setiap seting pelayanan. Pemotongan tali pusat yang lebih cepat dilakukan (kombinasi pemberian oksitosin, pemotongan tali pusat yang cepat, dan traksi tali pusat) banyak dilakukan diberbagai negara akibat kebijakan penerapan MAK III aktif tersebut karena dapat menurunkan kejadian perdarahan. Namun demikian WHO juga melaporkan bahwa asuhan yang fisiologis yakni tidak memberikan oksitosin, Peregangan Tali Pusat Terkendali (PTT) juga tidak menambah risiko terjadinya perdarahan. Praktik penundaan penjepitan/ pemotongan tali pusat  terbukti dapat memproteksi bayi dari anemia defisiensi besi.2

Bukti penelitian lain melaporkan bahwa penundaan penjepitan tali pusat dapat mengurangi risiko pemberian transfusi pada bayi akibat anemia. Menunda penjepitan tali pusat pada bayi cukup bulan dapat memberikan tambahan 30 persen darah ekstra hingga 60 persen lebih banyak sel darah merah.3, 4 Studi lain juga melaporkan bahwa penundaan penjepitan tali pusat dapat menurunkan risiko terjadinya retensio placenta.5

Dari fakta yang dipaparkan diatas dapat disimpulkan bahwa penundaan pemotongan tali pusat perlu diadopsi dalam praktik kebidanan. Lotus birth merupakan salah satu metode yang dapat memungkinkan penundaan pemotongan tali pusat dilakukan meskipun masih kontroversi. Sebagai petugas kesehatan yang professional perlu memahami tentang isu tersebut, sehingga dapat memberikan asuhan yang aman dan sesuai dengan kebutuhan klien.

 

B.    Pengertian Lotus Birth

Lotus Birth adalah proses persalinan pada kala III yang tidak langsung dilakukan pemotongan tali pusat, tetapi dibiarkan tetap terhubung antara bayi dan placenta hingga puput dengan sendirinya. Rata-rata tali pusat lepas dari perut bayi sekitar 3-10 hari pasca persalinan.6

Lotus birth meskipun tidak dianjurkan secara medis karena belum ada bukti ilmiahnya, namun menjadi tren diantara ibu-ibu yang ingin melahirkan terutama home birth. Bukti ilmiah memang belum ditemukan informasinya, namun dapat ditemukan dalam penuturan para ibu yang telah melahirkan dan di publis secara online, dapat juga dalam berbagai buku yang telah ditulis oleh mereka yang telah berpengalaman sebagai praktisi kesehatan maupun ditulis oleh ibu bersalin itu sendiri.7

Implikasi dari Lotus Birth sebaiknya didekati melalui perspektif tradisi misteri kuno, dikembangkan di tempat-tempat yang beragam seperti India, Cina, dan Mesir. Melalui disiplin kontemplasi dan meditasi, tradisi ini telah mengembangkan pemahaman tentang totalitas manusia yang masih absen dari ilmu kedokteran Barat. Umumnya, mereka mengartikulasikan dimensi di mana manusia hidup secara bersamaan dan bagaimana ketidakharmonisan atau trauma dalam satu efek yang lain.8

 

 C.   Sejarah Lotus Birth

Lotus Birth pertama kali dirintis di Negara Amerika Serikat. Meskipun demikian, praktik in sebenarnya sudah ada dalam budaya Bali dan Aborigin di Australia.9 Sumber lain mengatakan bahwa praktik ini dimulai dengan Claire Day yang sadar akan karya Jane Goodall seorang primatology mengamati proses persalinan simpanse. Dia mencatat bahwa simpanse istirahat dan bergerak naik turun di pohon-pohon dengan bayi mereka beserta plasenta yang tetap melekat pada bayi hingga puput secara alami.10

Claire menyadari ini adalah sikap makluk sosial, hewan yang cinta damai dan tetap terhubung bersama-sama. Dia juga membaca banyak tulisan yang menunjukkan bahwa banyak orang suci, seperti kisah Buddha dan Kristus tidak diceritakan memotong tali pusat mereka saat dilahirkan. Claire menyimpulkan bahwa memotong tali pusat adalah traumatis bagi bayi, dan bahwa kita sebagai manusia akan menghabiskan terlalu banyak tahun mencoba untuk pulih dari ini.10

Dr. Sarah Buckley, ibu dari 3 anak dengan metode persalinan Lotus Birth mengatakan bahwa ketika tali pusat dipotong, akan menyebabkan stress pada bayi sehingga bayi menjadi trauma. Meskipun tali pusat pada dasarkan adalah bukan organ yang hidup, namun sebenarnya masih terjadi komunikasi dengan bayi.10

Informasi mengenai Lotus birth ini juga terdapat dalam ajaran Budha, Hindu, Kristen serta Yahudi. Di Tibet dan Zen Buddhisme, istilah “kelahiran teratai” digunakan untuk menggambarkan para guru spiritual seperti Buddha Gautama dan Padmasambhava (Lien Sen-hua), menekankan mereka masuk ke dunia sebagai satu kesatuan yang utuh, anak-anak kudus. Kelahiran teratai juga ditemukan dalam Hinduisme, misalnya dalam kisah kelahiran Wisnu.

Di Indonesia dr. I. Nyoman Hariyasa Sanjaya dalam seminar tentang Lotus Birth di Malang mengatakan bahwa

kalau pohon saja, dengan sendirinya menggugurkan daunnya mengapa kita memaksanya dengan cara memetik daunnya? Nah begitulah sama halnya dengan Plasenta. Kalau tali pusat saja, bisa terlepas dengan sendirinya… mengapa kita harus mengklem/memotongnya…”

Praktik persalinan dengan Lotus birth telah dipraktikan oleh beberapa praktisi khususnya bidan di tanah air diantaranya ibu Robin Lim di Bali, namun dari informasi yang penulis dapatkan, preferensi untuk persalinan dengan metode Lotus Birth masih sangat jarang sekitar 2-3 persalinan setiap bulannya.

 

D.   Penghormatan terhadap Placenta di Berbagai Budaya

Praktik untuk tetap mempertahankan placenta agar tetap berada dekat bayi dilakukan karena alasan kepercayaan dan keyakinan dari berbagai kepercayaan dan kebudayaan. Budaya yang sebenarnya sudah mempraktikan Lotus Birth sebelum booming di Amerika antara lain : India, Cina, Mesir, Indonesia (Bali) dan suku Aborigin di Australia dan beberapa Negara lainnya.8, 11

Keyakinan yang mendasari penghormatan terhadap placenta adalah: 10-12

Hawai : Plasenta adalah bagian dari bayi yang harus ditanam di dekat pohon yang bertumbuh seiring dengan pertumbuhan bayi

  1. Suku Navajo Indian Barat Daya menguburkan plasenta bayi di keempat sudut kuburan keluarga yang dianggap mulia, sebagai suatu pengikat tanah leluhur dan masyarakat.
  2. Suku Maori di Selandia Baru menguburkan plasenta di tanah yang masih belum tercemar.
  3. Suku pedalaman Bolivian Aymara dan Queche meyakini bahwa plasenta memiliki spirit tersendiri. Karenanya seorang suami atau ayah dari bayi harus memperlakukan plasenta tersebut dengan mencuci dan menguburkannya pada tempat yang terlindung dan tersembunyi. Jika ritual tersebut tidak dilakukan secara benar, keyakinan mereka adalah ibu atau bayi akan menjadi sakit atau bahkan bisa mati.
  4. Suku Ibo di Negiria dan Ghana memperlakukan placenta sebagai kembaran dari bayi yang hidup, sementara placenta tersebut adalah kembaran sudah meninggal terlebih dahulu.
  5. Nepal : Plasenta adalah teman bayi sehingga harus selalu dekat dengan bayi sampai terlepas dengan sendirinya, tandanya bayi sudah siap
  6. Malaysia : Plasenta sebagai saudara tua/sibling bayi sehingga perlu dihormati
  7. Di Filipina placenta dikuburkan dengan berbagai macam buku oleh ibunya. Ini suatu pengharapan bahwa kelak bayinya akan tumbuh menjadi anak yang pintar.
  8. Di Vietnam dan China placenta disiapkan untuk dikonsumsi oleh ibu yang habis melahirkan. Masyarakat China dan Vietnam meyakini bahwa ibu yang baru melahirkan seharusnya merebus sendiri placenta bayinya, kemudian dijadikan kaldu dan meminumnya untuk memperbaiki kualitas ASI nya.

 

Perlakuan masyarakat Bali (beragama Hindu) terhadap plasenta

  1. Setelah dibersihkan dimasukkan ke dalam kelapa yang telah di belah, sebagai lambang dunia dan isinya.
  2. Di isi dengan duri-duri, sehingga terhindar dari gangguan, ditambahkan rempah-rempah, dan diberi wewangian agar harum dan tidak berbau.
  3. Di bungkus kain putih dan di tanam di depan rumah, dengan ketentuan sebelah kanan untuk laki-laki, sedangkan sebelah kiri untuk perempuan.
  4. Selama 42 hari selalu di pasang lilin (malam hari), setiap hari plasenta tersebut diberikan susu juga.

 

Perlakuan masyarakat Jawa terhadap ari-ari

  1. Setelah ari-ari dibersihkan dimasukkan ke dalam kendi.
  2. Di dalam kendi disertakan tulisan jawa / Abjad agar diharapkan kelak bayi tersebut pintar.
  3. Diberikan anget-anget dan duri sehingga pandangannya tajam.
  4. Selanjutnya di tanam di depan rumah untuk bayi laki-laki selama 42 hari, dan di belakang rumah selama 36 hari untuk bayi perempuan.
  5. Sebagian ada yang membuangnya ke sungai, sehingga bayi ini kelak akan dianggap suka merantau.

 

Perlakuan masyarakat Nusa Tenggara Timur terhadap plasenta

  1. Ditaruh sekitar 3 bulan di atas perapian sampai kering.
  2. Ada juga dengan mencuci plasenta hingga bersih
  3. Selanjutnya di tanam di sertai doa benda lain sesuai dengan harapan orang tua seperti alat tulis supaya pintar, alat jahit bagi bayi perempuan supaya trampil dan lain sebagainya.

 

E.    Langkah-langkah dalam melakukan Proses Lotus Birth

 

Prosedur pertolongan persalinan dengan metode Lotus Birth adalah sebagai berikut: 8, 13

  1. Ketika bayi lahir , biarkan tali pusat utuh. Jika tali pusat melingkari leher bayi, cukup di keluarkan melalui  kepala.
  2. Tunggu kelahiran placenta secara alamiah. Jangan gunakan oksitosin kaerena oksitosin akan memaksa darah terlalu banyak terlalu cepat ke bayi dan kompromi plasenta .
  3. Ketika plasenta lahir, tempatkan ke dalam mangkuk bersih di samping ibu .
  4. Tunggu transfusi melalui tali pusat ke bayi sebelum menangani plasenta .
  5. Basuhlah plasenta dengan air hangat dan keringkan .
  6. Tempatkan plasenta ke dalam saringan saringan selama 24 jam untuk memungkinkan drainase .
  7. Bungkus plasenta dalam bahan penyerap , popok atau kain dan dimasukkan ke dalam ke dalam kantong plasenta. Ganti pembungkusnya setiap hari atau lebih sering jika jika terjadi rembesan. Plasenta dapat diletakkan di tempat tidur yang telah ditaburi garam laut (yang diganti setiap hari ) dapat pula dengan herbal yang mengandung Echinacea, Calendula dan Arnica serta minyak Lavender .
  8. Bayi digendong dan disusui sesuai keinginan atau kebutuhan bayi yang diketahui secara insting oleh ibu jika bayi mengangis atau reaksi lainnya.
  9. Bayi diberi pakaian longgar agar tidak mengganggu gerakan karena tali pusat masih menempel.
  10. Bayi dapat dimandikan seperti biasa, palcenta dibiarkan seperti itu.
  11. Batasi pergerakan selama tali pusat belum puput.

 

F.    Kerugian Dilakukan Lotus Birth

Metode ini rentan terjadi infeksi karena port de entry antara tali placenta, tali pusat dan bayi masih ada. Akibatnya metode ini belum dapat sepenuhnya diadopsi dalam praktis medis. Kontroversi ini terjadi di berbagai belahan dunia, namun pilihan untuk menggunakan metode ini adalah hak ibu dan keluarga sehingga efek samping jika terjadi komplikasi seperti infeksi merupakan tanggung jawab ibu dan keluarga.13

Selain dapat terjadi infeksi, kekurangan lain dari metode Lotus birth adalah:12

  1. Tidak bisa diterapkan pada semua seting pelayanan karena terbatas oleh keyakinan, budaya dan kebijakan serta bukti ilmiah.
  2. Membutuhkan fasilitas kesehatan yang memadai dan SDM yang kompeten.
  3. Perlu hati-hati dalam merawat bayi, tali pusat dan plasenta sebelum puput agar tidak infeksi, tidak berbau dan tidak putus karena tindakan yang tidak disengaja karena terburu-buru atau tidak hati-hati

 

G.   Alasan Memilih Lotus Birth

 Beberapa alasan seorang ibu menentukan Lotus birth sebagai pilihan antara lain:14

  1. Tidak ada keinginan ibu untuk memisahkan plasenta dari bayi dengan cara memotong tali pusat
  2. Supaya proses transisi bayi terjadi secara lembut dan damai, yang memungkinkan penolong persalinan untuk memotong tali pusat pada waktu yang tepat.
  3. Merupakan suatu penghormatan terhadap bayi dan plasenta.
  4.  Mendorong ibu untuk menenangkan diri pada minggu pertama postpartum sebagai masa pemulihan sehingga bayi mendapat perhatian penuh.
  5.  Mengurangi kematian bayi karena pengunjung yang ingin bertemu bayi. Sebagian besar pengunjung akan lebih memilih untuk menunggu hingga plasenta telah lepas.
  6.  Alasan rohani atau emosional.

  7. Tradisi budaya yang harus dilakukan.

  8. Tidak khawatir tentang bagaimana mengklem, memotong atau mengikat tali pusat.

  9. Kemungkinan menurunkan waktu penyembuhan luka pada perut (adanya luka membutuhkan waktu untuk penyembuhan sedangkan jika tidak ada luka, waktu penyembuhan akan minimal). 

 

H. Kesimpulan

  1. Lotus birth adalah salah satu pilihan untuk melahirkan plasenta dengan cara alamiah, sesuai dengan filosof kebidanan.
  2. Kontroversi metode Lotus Birth untuk diaplikasikan secara general masih terus diperdebatkan, namun konsensus untuk menunda penjepitan dan pemotongan tali pusat telah disepakati dan di setujui oleh WHO bahwa tali pusat dijepit setelah berhenti berdenyut untuk memungkinkan penambahan aliran darah pada bayi untuk mencegah anemia.
  3. Sebagai tenaga kesehatan yang professional perlu mempertimbangkan baik buruk dan untung ruginya suatu metode agar dapat menghasilkan output kehamilan yaitu ibu dan bayi yang aman dan sehat serta generasi penerus yang berkualitas.

 

Referensi

  1. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  2. WHO. Care of the umbilical cord10 October 2013. Available from: https://apps.who.int/rht/documents/MSM98-4/MSM-98-4.htm#REVIEW.
  3. Black RE, Moris SS, Brice J. Where and why are 10 million children dying every year? The Lancet. 2003;361(9376):2226-34. Epub 28 June 2003.
  4. WHO. Care of the umbilical cord10 October 2013. Available from: https://apps.who.int/rht/documents/MSM98-4/MSM-98-4.htm#REVIEW.
  5. McDonald S, Abbott J, Hinggis S. Prophilactic ergometrine-oxytocin versus oxytocin for the third stage of labor (Cochrane Review).The Cochrane Library. John Wiley and Sons Ltd. 2006(3).
  6. Rabe H, Reynolds G, Diaz-Rossello. Early versus delayed umbilical cord clampsing in preterm infants. The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2006(3).
  7. Soltari H, Dickinson F, Symonds I. Placental cord drainage after spontaneous vaginal delivery as part of the management of the third stage of labour. Cochrane Database of Systematic Reviews. 2006;3.
  8. Orbe M. Lotus Birthing : trend or risk2009 5 Oktober 2013. Available from: http://news.medill.northwestern.edu/chicago/news.aspx?id=151179.
  9. __________. Lotus Borth-Shop5 Oktober 2013. Available from: http://www.womenofspirit.asn.au/ShopText.htm.
  10. __________. Lotus Birth. International College of Spiritual Midwifery, Women of Spirit [Internet]. 5 Oktober 2013. Available from: http://www.womenofspirit.asn.au/LotusBirthText.htm.
  11. __________. Common Question about Neonatal Umbilical Integrity (Lotus Birth) : A Resource5 October 2013. Available from: http://www.lotusfertility.com/Lotus_Birth_Q/Lotus_Birth_QA.html.
  12.  __________. Lotus Birth5 Oktober 2013. Available from: http://www.lovenaturalbirth.com/lotus-birth.html.
  13. Dantes Lotus BIrth and Baby Moon2012 13 Oktober 2013. Available from: http://www.youtube.com/watch?v=OWEThfEGTso.
  14. Ayuwinda S. Lotus Birth2012 5 Oktober 2013. Available from: http://syefrinayuwinda.blogspot.com/2012/06/lotus-birth.html
  15. Jacqueline. Lotus Birth-Bo’s Birth. Available from: http://www.jacquelinejimmink.com/bambigioi/engels/images/lotus-birth-bo.pdf.
  16. Djami MEU. Isu Terkini dan Evidence Based dalam Praktik Kebidanan2012 5 Oktober 2013. Available from: https://moudyamo.wordpress.com/2013/06/.

 

Pengunjung

Hari ini 18

Kemarin 98

Minggu ini 18

Bulan ini 2573

Semua 89413

Currently are 11 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions