Artikel telah diterbitkan di: https://moudyamo.wordpress.com/2018/07/06/kebutuhan-dasar-ibu-nifas/

Siklus kehidupan perempuan diwarnai oleh berbagai peristiwa, yang melibatkan aspek fisik maupun psikologis. Aspek fisik dapat dipengaruhi oleh berbagai system dalam tubuhnya, termasuk system hormone yang memegang peranan penting dalam proses reproduksi, sementara aspek psikologispun tidak terlepas dari pengaruh hormone yang timbal balik.

Secara teori ibu membutuhkan waktu 6-8 minggu pascapersalinan untuk kembalinya semua organ dan fungsi tubuh pada keadaan semula.1Namun dengan semua perubahan yang terjadi termasuk perubahan peran menjadi orang tua baru dengan semua adapasi yang harus dijalani, membuat masa transisi tersbut membutuhkan waktu lebih dari 8 minggu.2

Seperti perubahan pada masa remaja, mulai memasuki masa akil balik, terjadi menstruasi, hamil, maka pada saat ini terhadi perubahan hormon yang sangat drastis. Demikian juga pada masa premenopause, yang akibat dari pengaruh hormon yang besar tersebut, mempengaruhi kesehatan perempuan, serta psikologisnya. Pada tahapan lain seperti masa hamil, bersalin, nifas dan masa antara juga terhadi perubahan hormon seiring dengan proses reproduksi yang terjadi dalam tubuhnya.

Pada tulisan ini kita akan lebih fokus pada masa nifas, yang mana perubahan hormone juga terjadi pada masa ini. Perubahan hormone yang terjadi pada masa nifas adalah menurunnya kadar hormon estrogen dan prolaktin, diikuti dengan meningkatnya kadar hormon oksitosin dan prolaktin, yang diperlukan untuk kembalinya organ reproduksi seperti pada masa sebelum hamil, demikian juga dimulainya proses laktasi untuk menutrisi bayinya.3

Tidak dapat disangkal, bahwa baik ibu hamil, keluarga ataupun petugas kesehatan kurang memberikan perhatian pada ibu di masa nifas yang sama banyaknya dengan masa kehamilan. Padahal, berbagai literatur mengungkapkan bahwa angka morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi tidak jarang lebih banyak terjadi pada masa nifas, seperti dapat dilihat pada diagram pie di bawah ini.4-6

Gambar 1. Kematian Ibu pada masa Hamil, Bersalin dan Nifas6

Ibu pada masa nifas, seperti halnya ibu pada masa hamil juga memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar kesehatan fisik dan psikisnya dapat terjaga, demikian juga kesehatan bayi yang dilahirkannya.

Nutrisi dan Cairan

Status nutrisi seorang perempuan pada masa remaja, kehamilan dan laktasi mempunyai pengaruh secara langsung terhadap kesehatanmaternal dan bayinya pada masa puerperium. Undernutrisi yang dialami oleh seorang perempuan berpengaruh terhadap proses reproduksinya. Perempuan memulai proses reproduksinya pada usia dini, kemudian tidak jarang hanya dalam dua tahun, perempuan akan hamil lagi, dan terus berulang sekian kali jika tidak tersedia metode KB.6Kondisi ini juga dapat terjadi karena mereka tidak ingin menggunakannya karena alasan, seperti agama, budaya, kepercayaan dan alasan lain yang sulit dirubah.

Bukti ilmiah bahwa pemberian supplement pada masa hamil yang ditujukan pada ibu dengan Body Mass Index(BMI) 18,5 memberikan dampak positif yakni ibu tersebut terhindar dari Kekurangan Energi Kronis (KEK) dan berat badan bayi lahir rendah yang lebih sedikit dan pada usia 24 bulan, bayi tersebut mengalami peningkatan BB yang signifikan dibandingkan dengan bayi dari ibu yang tidak mendapat supplement pada masa hamil.6

Pada masa nifas, kebutuhan nutrisi ibu nifas mengalami penambahan 10% bagi ibu nifas aktif untuk memenuhi kebutuhan energi, sementara pada ibu nifas yang sangat aktif 20%. Nutrisi yang optimal pada masa nifas dapat mempengaruhi komposisi ASI yang berkualitas. Oleh karena itu, ibu nifas harus makan makanan yang bergizi.6

Akses terhadap makanan begizi adalah esensial. Jika diperlukan, terutama pada keadaan emergencyseperti pada populasi yang sangat miskin, perlu mendapat supplement sebanyal 500kcal/hari.6, 7Misalnya 100 gram cereal + 50 gram pulse/kacang-kacangan, atau 500 gram umbi-umbian, 55 gram minyak atau 100 gram kacang-kacangan.6

Tidak kalah penting adalah mikronutrien. Kasus yang paling banyak ditemukan karena kekurangan mikronutrien adalah (1) gangguan defisiensi iodium, (2) defisiensi vitamin A dan (3) anemia defisiensi besi. Penyebab terbanyak asalah ketersediaan makanan yang mengandung mikronutrien di atas dan gangguan absorsbsi mikronutrien tersebut.6

Defisiensi Iodine

Defisiensi iodine adalah risiko mayor pada perkembangan fisik maupun mental dan terdapat kira-kira 1600 juta populasi yang mengalami kekurangan iodine. Kekurangan iodine bertanggung jawab terhadap kerusakan otak janin, pada masa anak-anak menyebabkan retardasi mental dan gangguan neurologis. Akibat paling parah adalah kretinisme, suatu kombinasi dengan gangguan pertumbuhan.6

Kekurangan iodine dapat dicegah bahkan pada usia awal kehidupan, sebelum pembuahan, atau minimal pada masa hamil, agar tidak terjadi kekurangan iodine. Target populasi adalah wanita usia subur (WUS), termasuk ibu hamil, bayi dan anak prasekolah. Dosis rekomendasi dari WHO adalah :6

  • WUS             : 400-600mg (2 atau 3 capsul)
  • Bayi 0-1 tahun : 200 mg per oral (1 capsul) atau 240 mg Inj (0,5 ml Lipiodol)

Lebih bijaksana jika Iodine diberikan pada masa prakonsepsi atau pada masa hamil, sehingga dapat mengejar kekurangan iodine yang menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak. Namun demikian, jika terlambat diberikan pada masa trimester ketiga, maka pada masa awal persalinan harus segera diberikan.

Defisiensi Vitamin A

Kekurangan vitamin A merupakan salah satu penyebab umum kebutaan pada anak yang dapat dicegah. Sebaliknya efek kekurangan vitamin A pada parturient belum diketahui secara pasti. Insufisiensi intake nutrisi dan absorbsi vitamin A menyebabkan hampir 13 juta anak usia pra sekolah menderita kerusakan mata, rabun senja dan akhirnya xerophthalmia. Hal ini juga terkait dengan peningkatan keparahan penyakit, terutama infeksi campak, diare dan pernapasan. Kekurangan vitamin A adalah masalah kesehatan masyarakat utama di Afrika, Asia Tenggara dan Pasifik Barat.6

Tindakan pencegahan terhadap kekurangan vitamin A adalah seara teratur mengkonsumsi buah dan sayuran berwarna orange dan sayuran hijau tua. Upaya lain adalah dengan konsumsi fortifikasi seperti produk susu, margarin dan produk lemak lainnya. Di Amerika Tengah, gula berhasil digunakan untuk fortifikasi; di Indonesia dan Filipina monosodium glutamat (MSG) telah digunakan. Penggunaan empat hingga enam dosis oral bulanan dari 200.000 IU vitamin A yang mengandung minyak telah diadopsi di sejumlah negara berkembang.6

Dosis yang dianjurkan untuk ibu menyusui adalah 200 000 IU sekali, hanya selama bulan pertama setelah melahirkan. Penting untuk tidak memberikan vitamin A dosis ini kepada wanita usia subur secara umum, atau ibu menyusui lebih dari dua bulan setelah melahirkan, karena dosis tinggi mungkin teratogenik pada awal kehamilan.6

Anemia Defisiensi Besi dan Asam Folat

Anemia defisiensi besi dan asam folat merupakan kasus anemia yang diderita lebih dari 2000 penduduk di berbagai belahan dunia, yang disebabkan oleh asupan zat besi dan asam folat yang rendah yang dapat mereduksibio-availabilitydari diet zat besi dan kehilangan karena infeksi parasit (cacing ancylostomadan necator) dan juga malaria yang berulang. Wilayah dengan prevalensi tertinggi adalah di benua Afrika, Asia dan Amerika Latin. Ibu hamil dan anak pra sekolah adalah kelompok yang rentan terhadap infeksi parasite malaria tersebut. Anemia pada ibu hamil menyebabkan kehilangan darah dan infeksi pada persalinan dan berkontribusi terhadap mortalitas ibu pada periode postpartum.6

Pencegahan dan treatment yang diberikan terhadap anemia defisiensi besi dan asam folat adalah diet tinggi zat besi (hati, sayuran hijau tua) dan makanan yang membantu penyerapan zat besi (makanan yang beasal dari hewan, sayuran dan buah kaya akan vitamin C). Makanan yang mengambat penyerapan zat besi adalah kopi, suplemen kalsium, harus dihindari atau di konsumsi 2 jam setelah makan.Pencegahan pada basis populasi dimungkinkan oleh fortifikasi dengan zat besi dan produk makanan lainnya (roti, bubuk kari atau gula, tergantung pada pola konsumsi). Pendekatan lain adalah suplementasi dengan zat besi dan folat dari kelompok berisiko tinggi seperti wanita hamil dan menyusui, bayi dan anak-anak pra-sekolah. Di daerah prevalensi tinggi anemia defisiensi besi, 400 mg sulfat besi (2 tablet) per hari atau seminggu sekali, dengan folat 250 μg selama 4 bulan dianjurkan untuk wanita hamil dan menyusui. Di daerah prevalensi rendah 1 tablet sulfat besi setiap hari mungkin cukup, tetapi di daerah-daerah ini pendekatan lain adalah memberikan terapi besi hanya jika anemia didiagnosis atau dicurigai.6Konsumsi asam folat dan tablet menurut rekomendasi WHO adalah minimal selama 3 bulan postpartum. Studi sistematik review di Brazil, Canada, Czech Republic, Gambia, Switzerland, dan USA melaporkan bahwa kelompok ibu yang mendapat suplemen asam folat 300Mcg atau 1 mg asam folat, zat besi (ferro fumarate) 18 mg, zinc 15 mg, copper 2 mg, calcium 162 mg, serta mineral dan vitamin memiliki kadar Hb yang lebih tinggi dibandngkan kelompok kontrol. Asam folat berhubungan dengan tingginya kadar hb pada ibu yang mengkonsumsi supplement dalam 3 dan 6 bulan pertama postpartum.8

Defisiensi folat pada ibu hamil juga bertanggung jawab atas peningkatan insidensi pada defek neural tuba / Neural Tube Defect (NTD). Prevalensi NTD di secara global adalah 300.000 bayi per tahun, paling banyak adalah anensefali maupun spinabifida.9Referensi lain menyebutkan bahwa frekuensi NTD adalah 1,6 per 1000 kelahiran hidup dan terjadi peningkatan menjadi 8 per 1000 kelahiran hidup di Inggris. Kelainan ini merupakan kelainan kedua terbesar dari kelainan bawaan pada janin, dan dapat di deteksi paling cepat pada trimester pertama kehamilan.10Berikut ini adalah gambar bayi dengan NTD dan ilustrasi dari NTD.11, 12

Gambar 2. Scan USG pada Nuchal Transsulensi dan Intrakranial Transulensi10

Gambar 3. neural tuba /Neural Tube Defect (NTD)12

Gambar 4. Scan USG Bayi dengan Cranial defect, Anencefali dan facial cleft13

Kebutuhan cairan pada ibu nifas juga tidak kalah pentingnya. Ibu nifas dianjurkan untuk mengkonsumsi 3 liter cairan per hari baik air mineral maupun jus buah/sayuran segar dan susu.14, 15Karena terjadi diuresis dan diaphoresis akibat menurunnya kadar estrogen dalam tubuh ibu, maka asupan cairan adalah penting untuk diperhatikan oleh ibu dan tenaga kesehatan, sehingga ibu nifas tidak mengalami kekurangan cairan.1, 16

Ambulansi

Ambulasi adalah kebijakan untuk membimbing ibu nifas secepat mungkin melakukan mobilisasi, bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan serta melakukan aktivitas lainnya.15Ambulasi dini dilakukan secara bertahap, dimulai setalah 2 jam postpartum pada ibu yang mengalami persalinan normal tanpa komplikasi. Tindakan yang dilakukan yakni miring ke kiri dan ke kanan untuk mencegah tromboembolik.

Mobilisasi dini pada masa postpartum merupakan tindakan profilaksis mayor untuk mencegah penyakit tromboembolik/thromboembolic disease. Di negara sedang berkembang, penyakit tromboembolik menjadi salah satu penyebab utama mortalitas maternal selain perdarahan dan infeksi.6

Yang perlu diperhatikan saat melakukan mobilisasi adalah:7

  • Memperhatikan keadaan pasien, tidak semua pasien bisa melakukan mobilisasi dalam 2 jam pertama postpartum dengan berjalan.
  • Jangan melakukan mobilisasi secara terburu-buru, pastikan dilakukan secara bertahap.
  • Pemulihan pada ibu nifas dapat berlangsung dengan cepat jika ibu melakukan mobilisasi dengan benar terutama pada system peredaran darah, pernapasan dan otot rangka.
  • Jangan melakukan mobilisasi secara berlebihan karena akan mengakibatkan peningkatan beban kerja jantung.

Adapun keuntungan melakukan mobilisasi dini adalah:15

  • Melancarkan pengeluaran lokia
  • Mengurangi infeksi puerperium
  • Mempercepat involusi uterus
  • Meningkatkan fungsi gastrointestinal dan alat kelamin
  • Peningkatkan kelancaran sirkulasi darah untuk membantu pengeluaran sisa metabolism maupun produksi ASI
  • Ibu merasa lebih sehat dan kuat
  • Faal usus dan kandung kemih lebih baik
  • Kesempatan untuk merawat ibu dan bayinya
  • Tidakmenyebabkan perdarahan yang abnormal
  • Tidak mempengaruhi penyembuhan luka episiotomy dan luka operasi seksio sesarea.

Latihan pascapersalinan dibedakan menurut metode persalinan seperti dapat dilihat pada table berikut ini.

Tabel 1. Latihan Pasca Persalinan Menurut Metode Persalinan

NO PERASLINAN NORMAL PERSALINAN SEKSIO SESAREA
1. Berbaring pada punggung, kedua lutut ditekuk. Letakan kedua tangan pada perut dibawah tulang iga. Tarik napas perlahan-lahan lewat hidung, dan keluarkan napas melalui mulut, sambil mengencangkan dinding perut untuk membantu mengosongkan paru-paru

 

 

Ibu diajari untuk miring ke kiri dan ke kanan setelah ibu merasakan efek bius berangsur-angsur hilang. Gerakan miring kiri/kanan dilakukan dengan cara berpegangan pada pinggiran tempat tidur, dan dapat dibantu keluarga. Gerakan miring kiri/kanan juga membantu ibu ubtuk bangun dari tempat tidur yang akan mengencangkan bagian transfersus dan mendorong ke posisi duduk disamping tempat tidur.
2. Barbaring pada punggung, kedua tangan diluruskan di atas kepala dengan telapak tangan menghadap ke atas. Kendurkan sedikit lengan kiri dan kencangkan lengan kanan. Pada saat yang sama kencangkan tungkai kiri dan kencangkan tungkai kanan sehingga seluruh sisi tubuh yang kiri menjadi kencang sepenuhnya. Ulangi pada sisi tubuh yang kanan.

 

 

Naik turun tempat tidur dengan cara menekuk lutut terlebih dahulu, Tarik otot abdomennya, dan berguling kedepan, dengan dorongan tangan dan kaki. Ia akan mampu berpindah ke arah atas atau bawah. Napas dalam diikuti dengan huffing(ekspirasi paksa singkat) akan membantu mengeluarkan sekresi di paru-paru yang dapat terjadi karena general anesthesia.  Bila ibu perlu batuk, maka harus menekuk lututnya dan menahan lukanya dengan tekanan tangan atau bantal, sementara ibu bersandar atau duduk di tepi tempat tidur. Posisi ini menahan regangan berlebihan pada sutura, meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi nyeri.

 

 

     
3. Kontraksi vagina: berbaring pada punggung, kedua tungkai sedikit di buka, kencangkan dasar panggul, pertahankan selama 3 detik, dan kemudian lemaskan. Teruskan gerakan ini dengan berdiri dan duduk.

 

 

Setelah 8 jam pasca operasi dengan anestesi spinal, ibu sudah dapat belajar duduk.

 

Hasil penelitian melaporkan bahwa ambulasi dini pada seksio sesarea tidak menimbulkan sakit kepala, tetapi penyebab paling banyak adalah jarum spinal. Penggunaan jarum spinal yang kecil dapat mengurangi sakit kepala setelah tindakan spinal anestesi setelah operasi.17, 18

4. Memiringkan panggul: berbaring pada pinggul dengan kedua lutut ditekuk. Kontraksikan otot-otot perut untuk membuat tulang belakang menjadi datar dan otot-otot gluteus maximus menjadi kencang. Pertahankan selama 3 detik dan kemudian lemaskan. Dan setelah 24 jam postoperasi sudah dapat belajar jalan.

 

Hasil penelitian menginformasikan bahwa tidak ada perbedaan antara tirah baring 24 jam dan ambulasi dini terhadap kejadian Post Dural Puncture Headache (PDPH) / sakit kepala akibat anestesi sipnal.19

5. Sesudah hari ketiga, berbaring pada punggung dengan kedua lutut ditekuk, dan kedua lengan direntangkan. Angkat kepala dan bahu hingga membentuk sudut 45°pertahankan selama 3 detik dan lemaskan perlahan-lahan.  
6. Posisi yang sama seperti di atas, letakan kedua lengan disebelah lutut kiri, ulangi sebelah luar untuk lutut kanan.  

Sumber: Sutanto (2018)15

 

Eliminasi

Buang Air Kecil (BAK)

Ibu nifas akan merasa sulit BAK selama 1-2 hari, terutama pada primipara dan mengalami episiotomy. Ibu diharapkan dapat berkemih dalam 6-8 jam pertama postpartum. Setiap kali berkemih urin yang dikeluarkan sebanyak 150 ml.7

Kesulitan BAK ini dapat disebabkan karena trauma kandung kemih karena penekanan kepala saat kelahiran bayi dan nyeri serta pembengkakan pada perineum yang mengakibatkan kejang pada saluran kemih. Jika tidak terjadi BAK secara spontan dapat dilakukan:15

  • Dirangsang dengar mengalirkan keran air di dekat pasien
  • Kompres hangat di atas simpisis
  • Berendam air hangat setelah itu pasien diminta untuk BAK

Hal lain yang menyebabkan kesulitan berkemih pascasalin adalah menurunnya tonus otot kandung kemih akibat proses persalinan dan.7

Buang Air Besar (BAB)

Defikasi atau BAB umumnya terjadi dalam 3 hari pertama postpartum. Apabila terjadi obstipasi dan menimbulkan koprostase (skiballa: faeces yang mengeras) yang tertimbun dalam rectum, maka akan berpotensi Ibu mengalami febris. Kesulitan BAB dapat terjadi karena trauma pada usus akibat keluarnya kepala bayi/proses persalinan Faktor-faktor psikologi juga turut berperan terhadap konstipasi karena rasa takut luka jahitan perineum terlepas.15Jika terjadi konstipasi, ibu dianjurkan untuk banyak minum dan diet makanan yang tinggi serat, dan pemberian obat laksansia.7

Kebersihan diri/perineum

Seperti yang telah diketahui sebelumnya bahwa infeksi merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas pada ibu nifas. Oleh karena itu kebersihan diri terutama pada daerah perineum perlu diperhatikan dengan serius. Kebersihan merupakan salah satu tanda hygiene yang baik. Karena kita hidup di daerah tropis, ibu nifas juga perlu mandi 2 kali sehari agar bersih dan segar.

Beberapa alasan perlu memperhatikan kebersihan pada daerah privat ibu (vagina) pada masa nifas adalah:7

  • Adalanyadischargevagina selama masa nifas
  • Secara anatomis, letak vagina berdekatan dengan saluran kemih, demikian juga saluran pencernaan (rectum), sehingga memungkinkan terjadinya infeksi lebih besar.
  • Adanya luka pada perineum sebagai dampak dari proses persalinan, yang memungkinan terjadinya infeksi.
  • Vagina merupakan organ terbuka, dan mudah dimasuki kuman penyakit sehingga menjadi port de entryterhadap kuman-kuman pathogen.

Kebersihan pada daerah vagina dapat diperlihara dengan cara sebagai berikut:7, 15

  • Setiap kali BAK/BAB basuhlah mulut vagina dengan air bersih dari arah depan ke belakang agar kotoran yang menempel disekitar vagina baik urine maupun lokia atau faeces yang mengandung kuman penyakit dapat dibersihkan.
  • Bila keadaan vagina terlalu kotor, cucilah dengan sabun atau cairan antiseptic yang berfungsi untuk menghilangkan mikroorganisme yang terlanjur berkembang biak di daerah tersebut.
  • Pada ibu nifas yang dilakukan episiotomy, dapat duduk berendam dengan cairan antiseptic, atau herbal lain yang terbukti bermanfaat dan tidak merusak jahitan luka episiotomy ibu. Berendam dengan herbal dapat dilakukan selama 10 menit setelah, dapat membantu sirkulasi darah dan mengurangi nyeri.20
  • Mengganti pembalut sesering mungkin, setiap kali BAK/BAB agar tidak lembab yang memungkinkan bertumbuhnya mikroorganisme. Minimal pembalut diganti 3-4 jam sekali, meskipun tidak BAk/BAB.
  • Keringkan vagina dengan lembut dengan tisu atau handuk bersih setiap kali selesai membasuh, agar tetap kering, kemudian ganti dengan pembalut yang baru.
  • Bila ibu membutuhkan salep antibiotic, dapat dioleskan sebelum memakai pembalut yang baru
  • Jangan duduk terlalu lama agar menghindari tekanan yang lama di daerah perineum. Sarankan ibu duduk di atas bantal untuk mendukung otot-otot di sekitar perineum dan berbaring miring saat tidur.
  • Rasa gatal menunjukan luka perineum hampir pulih. Ibu dapat mengurangi rasa gatal dengan berendam air hangat atau kompres hangat tetapi jangan terlalu panas, sehingga tidak merusak benang jahit luka episiotomy yang digunakan.
  • Sarankan untuk melakukan latihan kegel untuk merangsang peredaran darah di perineum agar cepat pulih.

 Istirahat

Kebutuhan istirahat bagi ibu nifas perlu dipenuhi terutama beberapa jam setelah melahirkan bayinya. Hal ini dapat membantu mencegah ibu mengalami komplikasi psikologis seperti baby bluedan komplikasi lainnya. Masa nifas erat kaitannya dengan gangguan pola tidur, tidak hanya pada ibu, tetapi juga pada pasangannya atau keluarga yang membantu merawat bayinya.15

Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu nifas lebih sedikit waktu tidurnya dibanding pasangannya. Ibu akan lebih banyak tidur pada siang hari dibandingkan pada malam hari. Hal ini juga dipengaruhi oleh status pekerjaan, dimana sang ayah harus bekerja pada keesokan harinya.21Secara teoritis, pola tidur ibu akan kembali normal setelah 2-3 minggu postpartum.15Gangguan waktu tidur ini berdampak terhadap kelelahan bagi orang tua si bayi.21

Seksual

Dinding vagina akan kembali pulih dalam waktu 6-8 minggu. Pada saat lokia sudah berhenti keluar, ibu sudah aman untuk melakukan aktivitas seksual dengan pasangannya kembali. Ibu juga dapat memeriksa apakah terasa nyeri atau tidak saat berhubungan, dengan memasukan satu jari ke liang sanggama. Jika tidak terasa nyeri, maka biasanya tidak terjadi dyspareunia saat berhubungan seks.15

Sesuai dengan ajaran Islam, hubungan seksual pada periode postpartum dilarang/forbiddenselama ibu nifas masih mengeluarkan lokia. Waktu terhentinya pengeluaran lochia tidak sama pada semua perempuan, namun biasanya memakan waktu 30-40 hari.22

Pada umumnya wanita Arab Saudi memilih menunggu hingga 40 hari postpartum untuk memulai aktivitas seksual kembali. Mereka menunggu sampaiTaharah(bersih dan murni) untuk melakukan hubungan seksual, karena ditakutkan akan terjadi prolaps uteri. Tetapi ada juga dari mereka yang lebih modern dan tidak mempercayai hal tersebut. Bahkan sebaliknya jika sudah taharah pada hari ke-20 postpartum, dan sudah melakukan Gusol(mencuci area vagina secara bersih dari dischargepostpartum), maka sudah bisa melakukan hubungan seksual.22

Di beberapa daerah di Indonesia juga meyakini bahwa ibu nifas dan bayinya tidak boleh keluar rumah sebelum hari ke-40 postpartum. Di Indonesia bagian Timur khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT) tempat asal penulis, setelah hari ke-40 postpartum, ibu dan bayi dibawa ke gereja untuk didoakan, sebelum 40 hari postpartum tidak diperbolehkan keluar, karena akan terkena angin jahat.

Manajemen laktasi

Air Susu Ibu (ASI) adalah emulsi lemak dalam larutan protein, laktosa dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi. Laktasi adalah keseluruhan proses menyusui mulai dari ASI di produksi sampai proses bayi menghisap dan menelan ASI.23

Kolostrum adalah cairan yang keluar dari payudara ibu pada hari pertama sampai hari keempat atau ketujuh setelah melahirkan dan berfungsi sebagai pelindung yang kaya akan protein dan zat anti infeksi. Kolostrum juga dikatakan sebagai ASI stadium pertama dari hari pertama sampai hari keempat, berwarna kuning keemasan karena kaya akan sel-sel hidup dan lemak. Setelah persalinan komposisi kolostrum mengalami perubahan warna lebih muda dan komposisinya.23, 24

Laktasi merupakan bagian integral dari siklus reproduksi mamalia termasuk manusia. Masa laktasi mempunyai tujuan meningkatkan pemberian ASI eksklusif dan meneruskan pemberian ASI sampai anak umur 2 tahun secara baik dan benar serta anak mendapat kekebalan tubuh secara alami.24

ASI terbukti dapat bermanfaat bagi ibu dan bayi dari berbagai aspek diantaranya:25

  • Aspek gizi karena mengandung DHA dan AA serta whey caseindengan komposisi yang sesuai
  • Aspek Imunologik karena dalam kolostrum terkandung Ig.A, sIgA, Ig.M dan Ig.G, serta laktoferin, lysosim dan 3 jenis leukosit yaitu BALT, GALT dan MALT serta faktor bifidus
  • Aspek Psikologis karena dalam proses laktasi terjadi perlekatan antara ibu dan bayi (bonding attachmen) sehingga dapat mempererat hubungan kasih sayang diantara mereka.
  • Aspek Kecerdasan karena otak ternutrisi dengan makanan yang tepat dan aman sesuai dengan usianya
  • Aspek neurologis karena aktifitas menyerap ASI bermanfaat bagi koordinasi saraf bayi
  • Aspek ekonomi karena proses laktasi dapat menunda kehamilan dengan Metode Amenore Laktasi (MAL)

ASI menurut stadium laktasi terdiri dari:24, 26

  1. Kolostrum yaitu ASI yang keluar sejak hari pertama hingga keempat atau ketujuh
  2. ASI transisi ASI yang keluar sejak hari ke-4/7 hingga hari ke-10/14
  3. ASI matur yaitu ASI yang keluar sejak hari ke-10/14. Perubahan warna ASI dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 5. Perubahan tampilan ASI dari waktu ke waktu24

ASI diproduksi dari gabungan antara hormon dan reflex. Segera setelah melahirkan, bahkan kadang-kadang pada usia 6 bulan kehamilan akan terjadi perubahan hormon yang dapat mengeluarkan ASI. Pengetahuan akan konsep ini akan membantu ibu berhasil dalam menyusui bayinya, baik pemberian ASI eksklusif maupun kolostrum dengan benar. Interaksi hormonal pada masa kehamilan terhadap pembentukan ASI dapat dilihat pada diagram dibawah ini.26

Gambar 6. Diagram interaksi hormonal selama kehamilan26

Refeks yang mempengaruhi produksi ASI ada dua yakni:24, 27

  1. Refleks prolaktin

Puting susu terdapat banyak ujung saraf sensoris, apabila dirangsang akan timbul impuls yang dihantar ke hipofisis anterior untuk mengeluarkan prolaktin. Hormon prolaktin ini akan memproduksi ASI pada alveoli, yang akan bertambah jika lebih sering menyusui atau dikeluarkan. Efek lain dari prolaktin adalah menginhibisi ovarium sehingga jika menyusui secara eksklusif akan berfungsi sebagai kontrasepsi Metode Amenore Laktasi (MAL).
2. Refleks yang melepaskan atau memancarkan ASI atau let down reflex yang dipengaruhi oleh hormon oksitosin. Impuls yang diterima oleh puting susu juga diteruskan ke kelenjar hipofisis bagian belakang yang mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon ini bekerja untuk memacu kelenjar otot polos yang ada pada dinding alveolus dan dinding saluran untuk memompa ASI keluar. Jika lebih sering disusui, pengosongan alveolus dan saluran makin baik sehingga risiko pembendungan ASI semakin kecil. Kedua reflex tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 7. Refleks Prolaktin dan Oksitosin dalam Proses Laktasi28

 

Manfaat ASI dan Kolostrum:27, 29

  1. Sebagai pencahar yang ideal karena dapat membersihkan mekoneum dari saluran cerna bayi tanpa menimbulkan efek samping dan mempersiapkan usus bayi bagi makanan yang akan datang
  2. Zat antibodi yang terdapat dalam kolostrum memberikan perlindungan terhadap penyakit infeksi seperti diare, infeksi saluran napas, pneumonia, infeksi telinga dan penyakit lain seperti diabetes, obesitas, alergi, penyakit inflamasi saluran cerna dan kanker. Penelitian yang dilakukan di Banglades melaporkan bahwa bayi yang tidak mendapat ASI akan mempunyai risiko 2,23 kali lebih besar terhadap kematian karena berbagai kasus dan 3,94 kali lebih besar terhadap infeksi saluran pernapasan akut dan diare
  3. Mencegah perkembangan kuman-kuman patogen
  4. Kolostrum yang mengandung vitamin A berfungsi untuk melindungi bayi terhadap infeksi dan perkembangan retina pada awalnya
  5. Kolesterol yang tinggi dalam kolostrum berfungsi untuk mielinisasi jaringan saraf
  6. Lemak jenuh ikatan panjang (AA dan DHA) berfungsi untuk pertumbuhan otak dan retina
  7. Menghidrolisis/menguraikan protein dalam usus bayi menjadi kurang sempurna, sehingga meningkatkan kadar antibodi
  8. Merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup bagi bayi sampai umur 6 bulan baik lemak, vitamin, protein, garam dan mineral
  9. Mengandung zat protektif karena terdiri dari laktobasilus bifidus, laktoferin, lizosim, komplemen C3 dan C4 walaupun dalam kadar rendah, faktor antistreptokokus, antibodi (IgA, IgE, IgM dan IgG), imunitas seluler serta tidak menimbulkan alergi
  10. Mempunyai efek psikologis yang menguntungkan karena kontak kulit yang terjadi menimbulkan rasa percaya bayi kepada ibunya (basic sense of trust). Pada foto infra merah pada payudara ibu terlihat payudara ibu meyusui lebih hangat dibanding ibu yang tidak menyusui
  11. Menyebabkan pertumbuhan yang baik serta mengurangi kemungkinan obesitas
  12. Mengurangi kejadian karies dentis dimana kadar selenium dalam ASI yang tinggi dapat mencegah karies dentis
  13. Mengurangi maloklusi gigi

Faktor kekebalan yang terdapat dalam kolostrum ada dua yaitu kekebalan nonspesifik dan kekebalan spesifik. Dibawah ini akan dijelaskan satu persatu.30

Kekebalan Spesifik

  1. Laktobasilus Bifidus; Faktor pertumbuhan laktobasilus bifidus atau dikenal dengan bifidus factor banyak dijumpai dalam kolostrum. Bifidus factor dalam suasana asam di dalam usus bayi akan menstimulasi pertumbuhan laktobasilus bifidus (Bifidobacteria). Laktobasilus bifidus ini akan mengubah laktosa yang banyak terdapat dalam ASI menjadi asam laktat dan asam asetat sehingga suasana akan lebih asam, yang akan menghambat pertumbuhan kuman Escherichia coly (E.Coli) yang menyebabkan diare pada anak-anak, dan juga enterobacteriaceae.
  2. Laktoferin; Kadar laktoferin dilaporkan bervariasi yakni 6 mg/ml dalam kolostrum dan tidak lebih dari 1 mg/ml dalam ASI matur. Jika status gizi ibunya kurang, maka kadar ini ditemukan lebih rendah. Kadar laktoferin dalam susu sapi ditemukan 5mg/ml tapi cepat menurun. Laktoferin selain menghambat bakteri Candida albicans, juga secara sinergis dengan SlgA menghambat pertumbuhan E.Coli patogen.

Kekebalan Non Spesifik

  1. Khasiat Seluler; Kolostrum yang dihasilkan dari payudara ibu mengandung 0,5-10×106 berbagai macam sel/ml terutama makrofag (90%), limfosit (1-15%) dan sedikit lekosit polimorfonuklear. Kadar ini lebih sedikit dalam ASI matur. Makrofag bersifar ameboid dan fagositik terhadap kuman-kuman stafilokokus, E.Coli, dan Candida Albicans.
  2. Imunoglobulin;Kemajuan teknologi dibidang kedokteran (Elisa, Radioimmune Assay, Imuno-Electrophoresis) membuktikan bahwa kolostrum mengandung lebih dari 30 imunoglobulin. Delapan belas diantaranya berasal dari serum ibu dan sisanya hanya ditemukan dalam kolostrum. Imunoglobulin G (IgG) dapat menembus barrierplasenta sehingga dapat memberikan kekebalan kepada janin/bayi sejak lahir sampai beberapa bulan terhadap berbagai penyakit. Konsentrasi Imunoglobulin dalam kolostrum ASI sangat tinggi, namun berubah sesuai dengan bertambahnya hari. Komposisi tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 2. Perubahan Konsentrasi Imunoglobulin dalam Kolostrum (mg/24jam)

Referensi:

  1. Bick D. Mayes’ Midwifery; A Textbook for Midwives. Henderson C, Macdonald S, editors. London: Bailliere Tindal; 2004.
  2. Fahey JO, Shenassa E. Understanding and meeting the needs of women in the postpartum period: The perinatal maternal health promotion model. Journal of Midwifery & Women’s Health. 2013;58(6):613-21.
  3. Djami MEU. Proses Adaptasi Fisiologi dan Psikologi Ibu Nifas. Artikel [Internet]. 2018. Available from: http://akbidbinahusada.ac.id/publikasi/artikel/156-proses-adaptasi-fisiologi-dan-psikologi-ibu-nifas.
  4. The Consultation on Postpartum and Postnatal Care. Geneva: World Health Organization; 2010.
  5. Djami MEU. Konsep dasar nifas, laktasi dan menyusui; Pengantar Asuhan Kebidanan. Artikel [Internet]. 2018. Available from: http://akbidbinahusada.ac.id/publikasi/artikel/155-konsep-dasar-nifas-laktasi-dan-menyusui-pengantar-asuhan-kebidanan.
  6. Postpartum Care of the Mother and Newborn: a practical guide. Geneva: World Health Organization; 1998.
  7. Maritalia D. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Yogyakarta: Gosyen Publishing; 2017.
  8. WHO Recommendations on Postnatal Cara of the Mother and Newborn. Geneva: World Health Organization; 2013.
  9. Neural Tube Deffects. National Center on Birth Defects and Developmental Disabilities, Anual Report Fiscal 2012. 2012.
  10. Masihi S, Barati M, Marfu J, Eskandari Z. Detection of Neural tube defenct in the first and second trimester of pregnancy by ultrasound in Imam Hospital, Ahwaz between December 2009-2010. Iran J Reprod Med. 2012;10(6).
  11. Folic Acid deficiency during pregnancy will cause fetal defectts. MISSNews [Internet]. Available from: http://missnews.net/mommy/folic-acid-deficiency-during-pregnancy-will-cause-fetal-defects-16391.html.
  12. Egan P. Folic acid may prevent neural tube defects. Available from: http://www.pamelaegan.com/neural-tube-defects/.
  13. Radulescu M, Ulmeanu EC, Nedela M, Oncenscu A. Prenatal ultrasound diagnosis of neural tube defects. Pictorial essay. Medical Ultrasonography. 2012;14(2):147-53.
  14. Saifuddin AB. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Wiknjosastro GH, Affandi B, Waspodo D, editors. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo; 2002.
  15. Sutanto AV. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui, Teori dalam Praktik Kebidanan Profesional. Yogyakarta: Pustakan Baru Press; 2018.
  16. Medforth J, Battersby S, Evans M, Marsh B, Walker A. Oxford Handbook of Midwifery. Oxford: Oxford University Press; 2006.
  17. Genc M, Sahin N, Maral J, Celik E, Kar AA, Usar P, et al. Caesarean section with spinal anesthesia and postspinal headache. American Journal of Obstetric & Gynecologic Research. 2015;1:1-7.
  18. Raheem MGA, Shehatai A, Abolwafa ZA, Saman AME. Teh effect of postoperative position on the incidence of postdural puncture headache after Cesarean Setion. Med J Cairo Univ. 2010;78(2):57-61.
  19. Prihartono MA, Oktaliansah E, Wargahadibrata AH. Perbandingan insidensi Post Dural Puncture Headache (PDPH) pascaseksio sesarea dengan anestesi spinal antara tirah baring 24 jam denganmobilisasi dini. Jurnal Anestesi Perioperatif. 2013;1(1).
  20. Djami MEU. Pencegahan dan penatalaksanaan cedera perineum dalam persalinan2015. Available from: https://moudyamo.wordpress.com/2015/04/02/pencegahan-dan-penatalaksanaan-cedera-perineum-dalam-persalinan/.
  21. Gay CL, Lee KA, Lee S-Y. Sleep patterns and fatigue in new mothers and fathers. Biol Res Nurs. 2004;5(4):311-8.
  22. Haitham AA. Hidden voices, Saudi Women’s Experiences of Pastpartum and Their Understanding of How to Regain Their Health. Saudi Arabia: Cardiff Universitty; 2015.
  23. Roesli U. ASI Eksklusif. 2 ed. Jakarta: Trubus Agrundaya; 2004.
  24. Audrey JN, Wester RA. Lactation Management Self-Study Modul Level I. 3 ed. Vermont: Wellstart International; 2009.
  25. Firmansyah N, Mahmudah. Pengaruh karakteristik (pendidikan, pekerjaan), pengetahuan dan sikap ibu menyusui terhadap pemberian ASI eksklusif di Kabupaten Tuban. Jurnal Biometrika dan Kependudukan. 2012;1(1):62-71.
  26. Kari IK. Anatomi Payudara dan Fisiologi Laktasi. In: Soetjiningsih, editor. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997.
  27. Sidi IPS, Suradi R, Masoara S, Budihardjo SD, Marwoto W. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi; Program Manajemen Laktasi. Jakarta: Perkumpulan Perinatalogi Indonesia; 2012.
  28. S. Breastfeeding getting started. 2012 [cited 2018 5 July]. Available from: http://wwwcapefearvalleycom/outreach/outreach/modules/Breastfeeding/PagesPhysiologyhtm2010.
  29. Suraatmaja S. Aspek Gizi Air Susu Ibu. In: Soetjiningsih, editor. ASI Petunjuk Untuk Tenaga KEsehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997.
  30. Santosa H. Faktor-Faktor Kekebalan di Dalam Air Susu Ibu. In: Soetjiningsih, editor. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 1997.

Pengunjung

Hari ini 96

Kemarin 59

Minggu ini 96

Bulan ini 1535

Semua 85847

Currently are 39 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions