Artikel Bahan Ajar ini telah diterbitkan di: https://moudyamo.wordpress.com/2018/05/24/konsep-dasar-nifas-laktasi-dan-menyusui-pengantar-asuhan-kebidanan/

Tidak dapat dipungkiri bahwa periode nifas adalah masa yang beresiko terhadap ibu dan bayi baru lahir, namun mendapat perhatian yang sangat sedikit oleh petugas kesehatan, tidak sebesar pada masa hamil dan melahirkan.1Hal yang sama juga terjadi di Indonesia, dimana cakupa kunjungan nifas hanya mencapai 86,64%, sementara cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan mencapai 90,88%.2

Fakta lain menyebutkan bahwa dari 30 negara sedang berkembang yang disurvey sejak tahun 1999 – 2004, terdapat 40% ibu melahirkan yang tidak pernah memperoleh perawatan nifas.Di antara ibu melahirkan di luar fasilitas kesehatan, rata-rata lebih dari 70% tidak menerima perawatan postpartum. Di antara semua ibu yang menerima perawatan postpartum, 57% diperoleh dari tenaga kesehatan dan sisanya menerima perawatan dari dukun bersalin tradisional (Traditional Birth attendance / TBA) sebesar 36% dan dari sumber lainnya sebesar 7%.3

Pada jam, hari dan minggu pertama setelah persalinan adalah waktu yang berbahaya bagi ibu dan bayi yang baru lahir. Di antara lebih dari 500.000 wanita yang meninggal setiap tahun karena komplikasi kehamilan dan persalinan,4sebagian besar kematian terjadi selama atau segera setelah melahirkan.5Setiap tahun tiga juta bayi meninggal pada minggu pertama kehidupan, dan 900.000 lainnya mati dalam tiga minggu ke depan.6Adapun proporsi kematian ibu dan bayi pada masa nifas dalam satu minggu pertama persalinan dapat dilihat pada grafik berikut ini.

Sumber: WHO (2010)

Sumber: WHO (2010)

 

Perdarahan dan infeksi setelah proses persalinan untuk banyak kematian ibu, sementara kelahiran prematur, asfiksia dan infeksi berat berkontribusi pada dua pertiga dari semua kematian neonatal. Perawatan yang tepat di jam-jam pertama dan hari-hari setelah melahirkan dapat mencegah sebagian besar kematian ini. WHO merekomendasikan agar para ahli kesehatan yang terampil menghadiri semua kelahiran, untuk memastikan hasil terbaik bagi ibu dan bayi yang baru lahir.1

Namun, sebagian besar wanita masih kurang peduli. Rata-rata, penolong kelahiran terampil mencakup 66% kelahiran di seluruh dunia, dan beberapa bagian Afrika dan Asia memiliki tingkat cakupan yang jauh lebih rendah.7Fakta bahwa dua pertiga kematian ibu dan bayi baru lahir terjadi pada dua hari pertama setelah kelahiran membuktikan kurangnya perawatan.1

 

Pengertian Masa Nifas

The traditional defined of puerperium or the postnatal period as the time from immediately after the end of labor until the reproductive organs have returned as nearly as possible to their pregravid condition, a period estimated to be around 6-8 weeks, although the evidence base to support this duration is lacking.8

Masa nifas diartikan sebagai periode selama dan tepat setelah kelahiran. Namun secara popular, diketahui istilah tersebut mencakup 6 minggu berikutnya.9

Periode postpartum adalah masa enam minggu sejak bayi lahir sampai organ-organ reproduksi kembali ke keadaan normal sebelum hamil. Periode ini kadang-kadang disebut juga puerperiumatau trimester keempat kehamilan.10

Masa Nifas (puerperium) dimulai setelah plasenta lahir dan berkahir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan.11, 12

Istilah “periode postpartum” dan “periode pascanatal” sering digunakan secara bergantian tetapi kadang-kadang secara terpisah. Ketika menggunakan istilah “postpartum” mengacu pada masalah yang berkaitan dengan ibu, sebaliknya ketika menggunakan istilah “postnatal” maka mengacu pada hal-hal yang menyangkut bayi.1

Berdasarkan berbagai definisi diatas dapat disimpulkan bahwa masa nifas atau puerperium atau postpartum adalah masa yang dimulai setelah persalinan semua hasil konsepsi baik janin maupun plasenta hingga kembalinya fungsi reproduksi ibu seperti sebelum hamil, biasanya berlangsung selama 6-8 minggu.

Tujuan Asuhan Masa Nifas

Adapun tujuan perawatan masa nifas dibagi menjadi:

Tujuan asuhan masa nifas normal dibagi 2 yaitu :

  1. Tujuan umum

Membantu ibu dan pasangannya selama masa transisi awal mengasuh anak.

  1. Tujuan khusus

Menjaga kesehatan ibu dan bayi baik fisik maupun psikologisnya.

Melaksanakan skrining yang komprehensif, Mendeteksi masalah, mengobati atau merujuk jika terjadi komplikasi pada ibu dan bayinya.

Memberikan pendidikan kesehatan, perihal perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, menyusui, pertolongan imunisasi dan perawatan bayi sehat.

Memberikan pelayanan keluarga berencana.

Tujuan utama perawatan postpartum dan postnatal adalah untuk mempertahankan dan meningkatkan kesehatan ibu dan bayinya, juga untuk menumbuhkan lingkungan yang menawarkan bantuan dan dukungan kepada keluarga besar dan masyarakat untuk berbagai macam kebutuhan kesehatan dan sosial yang terkait. Kebutuhan ini dapat melibatkan kesehatan fisik dan mental serta masalah sosial dan budaya yang dapat mempengaruhi kesehatan dan kesejahteraan.1

Selain itu, orang tua baru perlu dukungan untuk menjadi orangtua dan tanggung jawabnya. Dengan demikian, kerangka konseptual untuk bimbingan pada perawatan postpartum dan postnatal harus menempatkan ibu dan bayinya pada pusat ketersediaan asuhan. Konsep ini mempromosikan apresiasi bahwa semua perawatan postpartum dan postnatal harus diberikan dalam kemitraan dengan ibu serta keluarganya secara individual untuk memenuhi kebutuhan masing-masing ibu dan anaknya.1

Referensi lain menyampaikan bahwa tujuan asuhan masa nifas adalah:13

  1. Untuk memastikan kesehatan fisik yang optimal agar dapat mendeteksi penyimpangan yang terjadi dari normal
  2. Pemeriksaantop to toeyang metodis, disertai dengan diskusi tentang kesehatan ibu nifas,
  3. Interpretasi yang tepat dari temuan akan tergantung pada apakah ibu memiliki kehamilan normal dan kelahiran vaginal secara spontan, masalah kesehatan atau obstetrik yang sudah ada sebelumnya, dan masalah yang terjadi dalam persalinan.

Peran dan Tanggung Jawab Bidan dalam Masa Nifas

Peran dan tangung jawab bidan pada masa nifas antara lain:12

  1. Memberikan dukungan secara berkesinambungan selama masa nifas  sesuai dengankebutuhan ibu untuk mengurangi ketegangan  fisik dan  psikologis selama masa  nifas
  2. Sebagai promotor hubungan antara ibu dan bayi  serta  keluarga .
  3. Mendorong ibu untuk menyusui bayinya dengan meningkatkan rasa nyaman.
  4. Membuat kebijakan perencana progam kesehatan yang berkaitan ibu dan anak  dan mampu melakukan  kegiatan  
  5. Mendeteksi komplikasi dan perlunya rujukan.
  6. Memberikan konseling untuk ibu dan keluarganya mengenai cara mencegah perdarahan mengenali tanda tanda bahaya ,menjaga  gizi yang baik, serta mempraktekkan  kebersihan yang  aman
  7. Melakukan manajemen asuhan dengan cara mengumpulkan data, menetapkan diagnosadan rencana tindakan serta melaksanakannya untuk mempercepat proses pemulihan,mencegah komplikasi dengan memenuhi kebutuhan ibu dan bayi  selama periode  nifas
  8. Memberikan asuhan secara professional.

Asuhan kebidanan pada masa nifas seyogyanya diberikan secara komprehensif sesuai dengan filosofi kebidanan yaitu continuity of care, jadi bida bertangung jawab memberikan asuhan selama siklus reproduksi klien nya. Asuhan ini juga harus sesuai dengan standar dan berkualitas.

 

Tahapan Masa Nifas

Tahapan masa nifas terbagi menjadi 3 tahap antara lain:12

  1. Intermediate postpartumyakni masa 24 jam pertama setelah persalinan
  2. Early postpartumyakni masa setelah persalinan hingga akhir minggu pertama postpartum.
  3. Late Postpartumyakni masa pada minggu kedua hingga minggu keenam postpartum.

WHO menegasakan bahwa perlu juga menjadi perhatian bagi petugas kesehatan dalam memberikan asuhan postpartum bagi ibu yang kehilangan bayinya, agar tidak berkurang dibandingkan dengan ibu yang memiliki anak hidup, terutama pada segi psikologisnya. Data menunjukan bahwa 3-4% ibu melahirkan kehilangan bayinya dalam proses persalinan. Oleh karena itu lebih bijaksana jika petugas kesehatan memberikan tindakan antisipasi kepada ibu bersalian untuk mencegah atau mengurangi masalah psikologi yang mungkin akan timbul karena kehilangan bayinya.1

 

Kebijakan Program Nasional Masa Nifas

Berikut ini adalah kebijakan program Nasional pemberian asuhan pada masa nifas berupa standar frekuensi kunjungan, dimana paling sedikit ibu mendapat 4 kali kunjungan atau kontak dengan petugas kesehatan untuk menilai, mencegah mendeteksi dan menangani masalah-masalah yang terjadi. Waktu dan tujuan kunjungan tersebut antara lain :12

Kunjungan pertama, waktu 6-8 jam setelah persalinan.

Tujuan :

  1. Mencegah perdarahan masa nifas karena persalinan atonia uteri.
  2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan: rujuk bila
  3. perdarahan berlanjut.
  4. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota keluarga
  5. bagaimana mencegah pedarahan masa nifas karena atonia uteri.
  6. Pemberian ASI awal.
  7. Memberi supervisi kepada ibu bagaimana tekhnik melakukan
  8. hubungan antara ibu dan bayi baru lahir.
  9. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi.
  10. Bila ada bidan atau petugas lain yang membantu melahirkan, maka petugas atau bidan itu harus tinggal dengan ibu dan bayi baru lahir untuk 2 jam pertama

Kunjungan Kedua, waktu: enam hari setelah persalinan.

Tujuan :

  1. Memastikan involusi uterus berjalan dengan normal.
  2. Evaluasi adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan abnomal.
  3. Memastikan ibu cukup makan, minum dan istirahat
  4. Memastikan ibu menyusui dengan benar dan tidak ada tanda-tanda adanya penyulit.
  5. Memberikan konseling pada ibu mengenai hal-hal berkaitan dengan asuhan pada bayi

 

Kunjungan Ketiga, waktu : dua minggu setelah persalinan.

Tujuan: Sama seperti kunjungan hari keenam.

Kunjungan Keempat, waktu: enam minggu setelah persalinan.

Tujuan:

  1. Menanyakan penyulit-penyulit yang ada.
  2. Memberikan konseling untuk KB secara dini

 

Laktasi / Menyusui

Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian yaitu produksi dan pengeluaran ASI . Payudara mulai dibentuk sejak embrio berusia 18-19 minggu dan baru selesai ketika mulai menstruasi, dengan terbentuknya estrogen dan progesterone yang berfungsi untuk maturasi alveoli; sedangkan hormone prolakton adalah hormone yang berfungsi untuk produksi ASI disamping hormone lain seperti insulin, tiroksin, dan sebagainya.14

Selama kehamilan, hormone prolactin dari plasenta meningkat, tetapi ditekan oleh hormone estrogen yang tinggi. Pada hari kedua atau ketiga postpartum kadar estrogen dan progesterone turun drastis sehingga pengaruh prolactin lebih dominan, sehingga terjadi sekresi ASI. Menyusui dini akan menimbulkan rangsangan pada puting susu sehingga terbentuklah prolactin pada kelenjar hipofisis, sehingga sekresi ASI semakin lancar. Dua reflex pada ibu sangan penting pada proses laktasi yaitu reflex prolactin dan reflex aliran / let down reflex  yang dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar Refleks Menyusui

Sumber : Manajemen Laktasi14

 

Manfaat menyusui sangat besar baik pada ibu maupun bayi baru lahir. Secara ringkat manfaat menyusui dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Sumber : Rachel (2017)15

Sumber: https://www.pinterest.co.uk/pin/452119250074180684/

Referensi

  1. WHO Technical Consultation on Postpartum and Postnatal Care. World Healt Organization, Geneva. 2010.
  2. Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan Repiblik Indonesia; 2012.
  3. Fort AL, Kothari MT, Abderrahim N. Postpartum Care: Levels and determinants in developing countries: DHS Comparative Reports 15. Marylang USA2006.
  4. Maternal mortality in 2005; Estimates developed by UNICEF, UNFPA, and The World Bank. World Healt Organization, Geneva. 2008.
  5. Make every mother and child count. World Healt Organization, Geneva. 2005.
  6. Ahman E, Zupan J. Neonatal and perinatal mortality: country, region and global estimates 2004. World Healt Organization, Geneva. 2007.
  7. Proportion of births attended by skilled helath worker; 2008 Updated — Fact sheet. Geneva: The World Health Organization; 2008.
  8. Brick D. Content and Organization of Postnatal Care. In: Henderson C, Macdonald S, editors. Mayes’ Midwifery, A textbook for Midwife. London: Bailliere Tindall; 2004.
  9. Cunningham FG, Gant NF, Leveno KJ, III LCG, Haunt JC, Wenstrom KD. William Onstetrics. 22 ed. New York: McGraw-HILL; 2005.
  10. Cashion K. Fisiologi Maternal pada Periode Mascapartum. In: Bobak IM, Lowdermilk DL, Jensen ND, Pery SE, editors. Buku Ajar Keperawatan Maternitas. Jakarta: Penerbit
  11. Muchtar A, Rumiatun D, Mulyati E, Nurrochmi E, Saputro H, Sursilah I, et al. Pelayanan Masa Nifas dan Keluarga Berencana. In: Mulati E, Widyaningsih Y, Royati OF, editors. Buku Ajar Kesehatan Ibu dan Anak, Continuum of Carelife cycle. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan; 2015.
  12. Saifuddin AB. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi. Affandi B, Baharuddin M, Soekir S, editors. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono; 2006.
  13. Medforth J, Battersby S, Evans M, Marsh B, Walker A. Oxford Handbook of Midwifery. Oxford: Oxford University Press; 2006.
  14. Sigit IP, Suradi R, Masoara S, Boedihardjo SD, Marnoto W. Bahan Bacaan Manajemen Laktasi. Jakarta: Perinasia; 2012.
  15. Rachel’s Remedy [Internet]2017. Available from: https://rachelsremedy.com/blogs/blog/everything-you-need-to-know-about-breastfeeding-and-more.

Pengunjung

Hari ini 9

Kemarin 88

Minggu ini 9

Bulan ini 2056

Semua 96028

Currently are 27 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions