Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan adalah pemilihan alternative perilaku tertentu dari dua atau lebih alternative (Teori George R. Terry dalam Astuti, 2016).1

Faktor-faktor yang mendasari pengambilan keputusan antara lain:

  1. Fisik : rasa yang dirasakan oleh tubuh
  2. Emosional : 
perasaan dan sikap
  3. Rasional : pengetahuan
  4. Praktik : keterampilan dan kemampuan individu
  5. Interpersonal : jaringan sosial dan hubungan antar individu
  6. Struktural : lingkup sosial, ekonomi dan politik
  7. Posisi atau kedudukan
  8. Masalah yang dihadapi
  9. Situasi dan kondisi
  10. Tujuan

Hal Pokok dalam Pengambilan Keputusan:

  1. Intuisi : berdasarkan perasaan, lebih subyektif dan mudah terpengaruh
  2. Pengalaman : pengetahuan praktis, seringnya terpapar suatu kasus meningkatkan kemampuan dalam mengambil keputusan
  3. Fakta : keputusan yang rill, valid dan baik
  4. Wewenang : lebih bersifat rutinitas
  5. Rasional : keputusan bersifat obyetif, transparan dan konsisten

Ciri pengambilan Keputusan yang Etis:

  1. Mempunyai pertimbangan benar salah.
  2. Sering menyangkut pilihan yang sukar.
  3. Tidak mungkin dielakkan.
  4. Dipengaruhi oleh norma, situasi, iman, lingkungan sosial.

Mengapa perlu mengerti Situasi?

  1. Untuk menerapkan norma-norma terhadap situasi.
  2. Untuk melakukan perbuatan yang tepat dan berguna.
  3. Untuk mengetahui masalah-masalah yang perlu diperhatikan.

Kesulitan-kesuliatan dalam mengerti situasi :

  1. Kerumitan situasi dan keterbatasan pengetahuan kita.
  2. Pengertian kita terhadap situasi sering dipengaruhi oleh kepentingan, prasangka dan faktor-faktor subyektif lain.

Bagaimana kita memperbaiki pengertian kita tentang situasi :

  1. Melakukan penyelidikan yang mamadai.
  2. Menggunakan sarana ilmiah dan 
keterangan para ahli.
  3. Memperluas pandangan tentang situasi.
  4. Kepekaan terhadap pekerjaan.
  5. Kepekaan terhadap kebutuhan orang lain

Bentuk pengambilan kebijakan dalam kebidanan:

  1. Strategi pengambilan keputusan yang dipengaruhi oleh kebijakan organisasi/pimpinan, fungsi pelayanan dan lain-lain
  2. Cara kerja pengambilan keputusan dengan proses pengambilan keputusan yang dipengaruhi pelayanan kebidanan klinik dan komunitas, strategi pengambilan keputusan dan alternatif yang tersedia
  3. Pengambilan keputusan individu dan profesi yang dipengaruhi standar praktik kebidanan, peningkatan kualitas kebidanan.

Kerangka pengambilan keputusan dalam asuhan kebidanan memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Bidan harus mempunyai responbility dan accountability.
  2. Bidan harus menghargai wanita sebagai individu dan melayani dengan rasa hormat.
  3. Pusat perhatian pelayanan bidan adalah safety and wellbeing mother.
  4. Bidan berusaha menyokong pemahaman ibu tentang kesejahteraan dan menyatakan pilihannya pada pengalaman situasi yang aman.
  5. Sumber proses pengambilan keputusan dalam kebidanan adalah : knowledge, ajaran intrinsic, kemampuan berfikir kritis, kemampuan membuat keputusan klinis yang logis.

Teori-Teori Etika

Etika didasari oleh filosofi moral yang diaplikasikan dalam setiap sendi kehidupan manusia. Ada kecenderungan untuk menganggap moral berkaitan dengan masalah seksualitas, namun, tentunya hal ini berkaitan dengan kebenaran dan kesalahan atau seharusnya dan tidak seharusnya dilakukan. Ada tiga level etika pada ummnya antara lain:2

  • Meta-ethics : melibatkan filosofi yang lebih dalam untuk memeriksa sebuah hal yang abstrak, untuk mengetahui apa yang kita maksud benar atau salah. Dalam situasi sehari-hari, kita tidak punya waktu untuk tingkat pertimbangan ini karena memerlukan waktu untuk pemikiran yang lebih rumit;
  • Ethical theory : bertujuan untuk menciptakan mekanisme pemecahan masalah seperti dalam hal matematika, tercipta formula/rumus untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan bidangnya; dan
  • Practical Ethics : seperti yang disarankan, adalah bagian aktif di mana karya para filsuf moral dipraktikkan.

Bidan diharuskan untuk tidak hanya selalu up to date dalam hal kompetensi (kognitif, psikomotor dan afeksi), tetapi juga harus dapat memahami dan menguasai ranah hukum/ kebijakan dan etika serta norma-norma yang ada.3 Adapun beberapa teori yang melandasik etika kebidanan antara lain:4, 5

  1. Teori Utilitarisme

Mengutamakan adanya konsekuensi kepercayaan adanya kegunaan, semua manulisa memiliki perasaan senang dan sakit. Prinsip umum dari utilitarisme adalah didasarkan bahwa tindakan moral menghasilkan kebahagiaan yang besar bila menghasilkan jumlah atau angka yang besar.

Bentuk utilitarisme ada dua yaitu :

  • Utilitarisme berdasarkan tindakan : bahwa setiap tindakan ditujukan untuk keuntungan.
  • Utilitarisme beradasarkan aturan : bahwa setiap tindakan didasarkan pada prinsip kegunaan dan aturan moral.
  1. Teoti Deontology

Menurut Immanuel Kant : sesuatu dikatakan baik dalam arti sesungguhnya adalah kehendak yang baik oleh kehendak manusia.

Menurut W.D Ross : Setiap manusia punya intuisi akan kewajiban dan semua kewajiban berlaku langsung pada diri kita.

Kewajiban untuk melakukan kebenaran adalah kewajiban utama, termasuk kesetiaan, ganti rugi, terima kasih, keadilan, berbuat baik dan sebagainya. Memahami kewajiban akan membuat seseorang terhindar dari konflik atau dilemma.

  1. Teori Hedonisme

Sesuai kodratnya setiap manusia mencari kesenangan dan menghindari ketidaksenangan. Hal terbaik adalah menggunakan kesenangan dengan baik dan tidak terbawa oleh kesenangan. Dalam menilai kesenangan, tidak hanya kesenangan inderawi, tetapi juga kebebasan dari rasa nyeri, serta kebebasan dair keresahan jiwa. Kita sebut baik jika meningkatkan kesenangan dan sebaliknya dinamakan jahat jika mengurangi kesenangan atau menimbulkan ketidak senangan.

  1. Teori Eudemonisme; menurut Aristoteles, dalam setiap kegiatan manusia mengejar suatu tujuan, ingin mencapai sesuatu yang baik bagi. Semua orang akan setuju bahwa tujuan hidup akhir manusia adalah kebahagiaan (eudemonia). Keutamaan dalam mencapai kebahagiaan melalui keutamaan intelektual dan moral.

Ada beberapa prinsip, konsep dan doktrin dalam etika kebidanan yang harus diperhatikan antara lain:2

  • Accountability / dapat di pertanggungjawaban
  • Beneficence / kemurahan hati
  • Non-maleficence / bukan tindak kejahatan
  • Confidentiality / kerahasiaan
  • Justice / keadilan
  • Paternalism : pengambilan kebijakan atau praktik oleh orang yang memiliki wewenang untuk membatasi kebebasan dan tanggung jawab bagi mereka atas kepentingan terbaik bawahannya.
  • Consent / persetujuan
  • Value of life / nilai kehidupan
  • Quality of life / kualitas hidup
  • Sanctity / kesucian
  • Status of the fetus / status janin
  • Acts and omission / Tindakan dan kelalaian
  • Ordinary or extraordinary mean
  • Double effect
  • Truth – telling

Dimensi Etik dalam Peran Bidan

Peran bidan secara menyeluruh meliputi beberapa aspek antara lain:3

  • Praktisi
  • Penasehat
  • Konselor
  • Teman
  • Pengelola
  • Pendidik
  • Peneliti

Menurut United Kingdom Central Council (UKCC) tahun 1999 tanggung jawab bidan meliputi:2

  • Mempertahankan dan meningkatkan kenyamanan ibu dan bayi;
  • Menyediakan pelayanan yang berkualitas dan informasi serta nasehat yang tidak bias yang berdasarkan pada evidence based; dan
  • Mendidik dan melatih calon bidan agar dapat bekerjasama dan memberi pelayanan dengan memiliki tanggung jawab yang sama, termasuk dengan teman sejawat nya atau kolega agar fit for practice and fit for purpose.

Dimenski Kode etik meliputi:3

  1. Antara anggota profesi dan klien
  2. Antara anggota profesi dan sistem kesehatan
  3. Anggota profesi dan profesi kesehatan
  4. Sesama anggota profesi

Prinsip kode etik terdiri dari:3

  1. Menghargai otonomi
  2. Melakukan tindakan yang benar
  3. Mencegah tindakan yang dapat merugikan
  4. Memperlakukan manusia dengan adil
  5. Menjelaskan dengan benar
  6. Menepati janji yang telah disepakati
  7. Manjaga kerahasiaan

 

Dilema Etik / Moral dalam Pelayanan Kebidanan

  1. Dilema Etik

Dilema terjadi ketika dihadapkan pada sesuatu hal yang kurang jelas sehingga kesulitan dalam pengambilan keputusan. Bila akan dihadapkan pada kondisi yang sukar karena menyangkut etik / bioetik, sehingga pengambilan keputusan membutuhkan pertimbangan moral serta kebijaksanaan yang berhubungan dengan pelayanan kebidanan.2

Dilema moral menurut Campbell (1984 dalam Jones 2000) adalah

One is faced with two alterfnative choices, neither of which seems a satisfactory solution to the problem”

Suatu keadaan dimana dihadapkan pada dua alternatif pilihan yang kelihatannya sama atau hampir sama merupakan pemecahan masalah yang sama-sama memuaskan.4, 5

Dilema etik dalam bioetik:

  • Abortus (Pro Choice) tidak sesuai dengan moral dan ajaran agama apapun dan dalam hukum kesehatan harus dilakukan atas dasar indikasi medis tertentu. Di Amerika pada masa pemerintahan Obama memdukung Pro Choice, tapi tetap ditentang oleh kaum Pro Life;
  • Pencangkokan organ tertentu; dan
  • Permintaan mengakhiri nyawa karena tidak tahan terhadap perderitaannya (euthanasia), telah di lakukan di USA dan UK dan negara lainnya.6

Dilema muncul karena terbentur pada konflik moral, pertentangan batin atau pertentangan antara nilai – nilai yang diyakini bidan dengan kenyataan yang ada. Ketika mencari solusi atau pemecahan masalah harus mengingat akan tanggung jawab profesional, yaitu:

  1. Tindakan selalu ditujukan untuk peningkatan kenyamanan kesejahteraan pasien atau klien.
  2. Menjamin bahwa tidak ada tindakan yang menghilangkan sesuatu bagian  disertai rasa tanggung jawab memperhatikan kondisi dan keamanan pasien atau klien.

 

  1. Konflik Moral

Konflik adalah suatu proses dimana dua pihak atau lebih berusaha memaksa tujuannya dengan cara mengusahakan unutk menggagalkan tujuan ang ingin dicapai pihak lainnya.

Konflik intrapersonal terdiri dari 3 macam yaitu:7, 8

  • Approach-Approach conflict, 
dimana orang didorong untuk melakukan pendekatan positif terhadap dua persoalan atau lebih, tetapi tujuan-tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain.
  • Approach-Avoidance Conflict, dimana orang didorong untuk melakukan pendekatan terhadap persoalan-persoalan tersebut dan tujuannya dapat mengandung nilai positif dan negative bagi orang yang mengalami konflik tersebut.
  • Avoidance-Avoidance Conflict, dimana orang didorong untuk menghindari dua atau lebih hal yang negative tetapi tujuan- tujuan yang dicapai saling terpisah satu sama lain.

Konflik moral adalah pertentangan yang terjadi karena pengambilan keputusan yang menyangkut dilema moral. Konflik moral atau dilema pada dasarnya sama, kenyataannya konflik yang terjadi karena berada diantara prinsip moral dan tugas yang mana sering menyebabkan dilema (Johnson 1990 dalam Jones 2000).4

Penanganan konflik etik kebidanan terdiri atas :

  1. Informed Concent

Pesetujuan yang diberikan pasien atau walinya yang berhak terhadap bidan untuk melakukan suatu tindakan kebidanan kepada pasien setelah memperoleh informasi lengkap dan dipahami mengenai tindakan yang akan dilakukan

2. Negosiasi

Proses yang di dalamnya dua pihak atau lebih bertukar barang / jasa dan berupaya menyepakati tingkat kerjasama tersebut.

Negosiasi terjadi ketika suatu keadaan memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  • Pertama, melibatkan dua pihak atau lebih. Kedua, terdapat suatu konflik kepentingan antara pihak-pihak tersebut.
  • Keduanya menginginkan sesuatu yang menguntungkan untuk dirinya masing-masing. Price versus profit, keuntungan bagi satu pihak merupakan harga yang harus dibayar oleh pihak lain.
  • Ketiga, pihak-pihak yang terlibat sama-sama berusaha untuk mencapai kesepakatan bukannya berkonflik. Kesepakatan dapat dicapai melalui kompromi antara memberi dan menerima sesuatu antar pihak tersebut

3. Persuasi

Persuasi bisa diartikan sebagai usaha untuk mengubah sikap dan kepercayaan melalui informasi dan argument.

Ketika target menerima pesan (message) yang berbeda dari pendiriannya maka munculah respon yang bermacam-macam seperti :

  • reject the message (menolak pesan atau informasi)
  • derogate the source (mencela the sumber)
  • suspend judgment (mencari informasi tambahan untuk menentukan keputusan, menolak atau menerima)
  • distort the message (tidak menanggapi informasi dan menyimpannya dalam “skema” yang mungkin suatu saat akan mengubah sikapnya)
  • attempt counter persuasion (melancarkan argumentasi balik)

 

REFERENSI:

  1. Astuti KHEW. Modul Bahan Ajar Cetak Kebidanan: Konsep Kebidanan dan Etikolegal dalam Praktik Kebidanan. Jakarta: Pusat Pendidikan Sumber Daya Manusia Kesehatan, Badan Pengembangan dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia; 2016.
  2. Jones SR. Ethics and the Midwife In: Henderson C, Macdonald S, editors. Mayes’ Midwofery, A Textbook for Midwife. London: Bailliere Tindal; 2004.
  3. Wahyuningsih HP, Zein AY. Etika Profesi Kebidanan. Yogyakarta: Fitramaya; 2005.
  4. Jones SR. Ethics in Midwifery. London: Mosby; 2000.
  5. Mafluha Y, Nurzannah S. Modul Etika dan Hukum Kesehatan Bagi Mahasiswa Diploma III Kebidanan. Tangerang: Akademi Kebidanan Bina Husada Tangerang; 2016.
  6. Nordqvist C. Euthanasia and Assisted. Newsletter [Internet]. 2016. Available from: https://www.medicalnewstoday.com/articles/182951.php.
  7. Wahyudi A. Konflik, Konsep Teori dan Permasalahan. Portal Garuda. [Internet]. 2015. Available from: http://download.portalgaruda.org/article.php?article=419078&val=8953&title=KONFLIK, KONSEP TEORI DAN PERMASALAHAN.
  8. Memahami Konflik pada Peserta Disik SD dan Upaya Penanganannya. Konflik Stress dan Trauma [Internet]. 2012. Available from: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/196211121986102-SETIAWATI/KONFLIK,_STRESS_(5)_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf.

 

Telah dipublikasikan: https://moudyamo.wordpress.com/2017/10/15/bahan-ajar-teori-teori-yang-mendasari-pengambilan-keputusan-dalam-menghadapi-dilemma-etikmoral-pelayanan-kebidanan/

Pengunjung

Hari ini 9

Kemarin 88

Minggu ini 9

Bulan ini 2056

Semua 96028

Currently are 13 guests and no members online

Kubik-Rubik Joomla! Extensions